Aceh – Banjir Bandang Aceh Harapan Warga Ikut Tenggelam Baru 2026 menjadi momen penuh duka bagi para penyintas banjir bandang dan longsor di sejumlah wilayah Aceh, seperti Aceh Utara dan Aceh Tamiang. Impian dan rencana hidup warga lenyap bersama derasnya arus air yang menghancurkan rumah, lahan pertanian, serta sumber penghidupan mereka sejak akhir 2025.
Di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, puluhan warga masih bertahan di bawah tenda darurat dari terpal. Salah satu korban, Mulyawati (35), mengatakan seluruh harta bendanya hanyut dibawa banjir. Ia mengaku tidak tahu bagaimana melanjutkan hidup di tahun 2026 karena kebun dan lahan pertanian mereka telah rusak total.

Banjir bandang juga membawa gelondongan kayu besar yang meratakan permukiman warga. Imam Desa Geudumbak, Saiful (60), menyebut dari puluhan rumah yang ada, kini hanya tersisa lima bangunan. Ia menilai bantuan pemerintah datang sangat lambat dan belum mencukupi kebutuhan ratusan warga yang terdampak.
Baca Juga :Pickleball: Olahraga Seru yang Sedang Naik Daun di Dunia dan Indonesia
Banjir Bandang Aceh Harapan Warga Ikut Tenggelam
Kondisi ini mendorong relawan turun tangan. Pujo Waluyo (41) dari kelompok Rakyat Banting Tulang menyalurkan bantuan makanan ke wilayah terdampak. Ia memperingatkan ancaman banjir susulan masih sangat tinggi dan mendesak pemerintah segera merelokasi warga dari lokasi rawan bencana.
Sementara itu, di Kabupaten Aceh Tamiang, penyintas banjir menyambut pergantian tahun dengan air mata. Mesra Rajagukguk (53) kehilangan rumah, ladang, dan sumber penghasilan. Ia kini bertahan hidup bersama tiga anaknya di rumah semi permanen tanpa pintu, mengandalkan bantuan dermawan untuk makan sehari-hari.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga 31 Desember 2025, banjir bandang dan longsor di Aceh Tamiang menewaskan 101 orang dan memaksa sekitar 114.900 warga mengungsi. Banyak korban masih menunggu bantuan dan kepastian untuk membangun kembali kehidupan mereka.